Mungkin kita terbiasa dengan ramai dengan keluarga dengan kekasih dengan teman atau yang lain yang menemani. Kosong seperti di ujung kebiasaan kita hingga ia menjadi sesuatu yang asing. Lumrah halnya jika setiap sesuatu yang asing membentuk ketakutan yang biasanya dihindari. Kosong adalah hampa tidak ada apa-apa. Apakah ia semenyeramkan yang kita pikir? Apa masalahnya jika kita merasa kosong? Mungkin kita hanya tidak terbiasa saja? Seperti yang bukan kebiasaan menjadi sebuah ketidaknyamanan. Namun, mungkin kita perlu beristirahat dari semua kebisingan dan yang biasa menemani. Mungkin kekosongan tidaklah semenyeramkan yang kita pikir. Setiap kekosongan melahirkan kesepian. Kesepian mendalam entah mengapa terasa begitu menyeramkan. Sayangnya setiap kali kesepian menghampiri kita mencari dalam yang lain. Namun, setiap yang lain ada setiap itu pula kita kecewa. Kesepian kita tidak benar-benar hilang. Mungkin memang bukan seperti itu caranya menghadapi sepi. Kita hanya harus belajar terbiasa dengannya. Sepi adalah tanda bahwa sudah sepatutnya kita rehat sejenak dari bising dari ramai dari yang lain dan hanya merasai hati kita sendiri. Pada akhirnya, ramai atau sepi hanyalah menjadi sesuatu yang biasa dirasakan silih berganti.
Komentar
Posting Komentar