Langsung ke konten utama

Postingan

Ibu Senang Anak pun Senang

Saya dapat referensi serial drama korea bagus dari salah satu akun parenting yang saya ikuti di Instagram. Drama ini mengangkat tema menjadi seorang  ibu, judulnya "Birthcare Center". Menurut saya, bagus sekali interpretasi menjadi seorang ibu yang dapat kita lihat dari berbagai sudut pandang di drama ini. Saya tidak akan membahas jalan ceritanya. Saya hanya ingin berbagi cerita saya. Menjadi seorang ibu  adalah anugerah yang luar biasa. Naluri seorang ibu adalah menyayangi, merawat dan memprioritaskan anak di atas dirinya sendiri. Dunia seorang wanita berubah ketika menjadi seorang ibu. Fokusnya bukan kepada dirinya lagi, tapi kepada anaknya. Dunia yang dipenuhi dengan si anak; senyumnya, canda tawanya, tingkahnya, kebutuhannya, dll.  Saya ingat bulan pertama anak saya lahir. Pulang dari rumah sakit, saya hanya istirahat sehari. Saya langsung beradaptasi dengan peran baru sebagai seorang ibu; bangun di malam hari berkali-kali untuk menyusui, menidurkan dan mengganti popoknya
Postingan terbaru

Menjadi Ibu

Anugerah terbesar seorang wanita menurut saya adalah menjadi seorang ibu. Posisi ini jauh lebih tinggi daripada menjadi seorang CEO. Mengapa? Karena ibu adalah representasi kasih Tuhan. Ibu mempunyai rahim untuk tempat janin bertumbuh. Tuhan melahirkan seorang anak melalui seorang ibu. Bukankah itu adalah tugas yang besar dan mulia? Melahirkan manusia. Apakah cukup sampai disitu? Tidak, ibu adalah pendidikan pertama bagi anaknya yang lahir ke dunia tanpa tahu apapun. Ibu mengajari kasih sayang pada anaknya tanpa kenal lelah. Seorang ibu merawat dan memprioritaskan anaknya lebih dari dirinya sendiri. Alhamdulillah, Allah telah izinkan saya menjadi seorang ibu. Alhamdulillah, kesedihan saya berubah menjadi kebahagiaan penuh berkah.  Saya sudah langsung jatuh cinta saat pertama kali menatap wajah mungil di dada saya. Saya begitu bersyukur.  Berkah menjadi orang tua tak terlepas dari amanat dan tanggung jawab yang besar yang menyertainya. Banyak PR yang harus dikerjakan untuk membesarkan s

Suami

Mau nulis apa ya? Hmm.. Suami saya tau saya punya blog. Ia bertanya kenapa saya tidak menulis tentangnya. Ia meminta saya menulis tentangnya sebelum lebaran tiba. Haha narsis sekali ya suami saya.  Bicara tentang suami saya berarti juga bicara tentang pernikahan. Pernikahan bagi saya adalah untuk menjaga diri. Suami saya adalah jawaban dari doa-doa panjang saya. Ternyata ia lah jodoh saya. Pernikahan kami bukanlah seperti cerita dongeng yang "happily ever after". Pernikahan kami lebih seperti pembelajaran untuk mendewasa.  Masalah-masalah hadir sebelum dan setelah kami berumahtangga. Yang saya tau adalah bahwa saya dan suami saya tidak menyerah atas komitmen kami, walaupun kami sadar penyesuaian diri kami sangatlah berat. Tidak jarang kami kesal satu sama lain. Tidak jarang pula kami bertengkar hebat karena masalah sepele. Sekesal-kesalnya saya, akhirnya pun saya tetap memeluk suami saya. Ya, tentu saja karena saya menyayanginya. Suami saya tidak sempurna dan saya pun tidak s

Kesempatan

Pagi ini saya dapat kabar duka dari kolega saya. Ia teman seperjuangan saya di kantor. Kerjaan kami sama hanya entiti yang diurus beda. Pagi ini ibundanya meninggal. Ia memang sudah lama sakit.  Tepat sore ini juga sidang isbat akan diadakan untuk menentukan apakah besok jadi puasa. Siapa sangka ibundanya tutup usia sebelum merasakan Ramadhan tahun ini. Siapa sangka tahun lalu menjadi Ramadhan terakhirnya. Innalillahi.. Kita tahu dengan  pasti bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Tidak jarang pun kita mendengar anak-anak dan remaja  tiba-tiba meninggal. Kematian tidak mengenal usia. Ia datang begitu tiba-tiba. Namun ketika ia datang, mengapa kita tetap tersentak?  Hidup adalah kesempatan. Kesempatan untuk apa? Kesempatan untuk berbuat apa saja yang kita mau untuk hidup kita dan untuk hidup orang lain. Kesempatan agar kita tidak menyesal ketika kematian datang. Ketika kita benar-benar mengingat mati, seharusnya kita lebih menghargai hidup. Seharusnya kita tidak menyia-ny

Faith It Until You Make It

Happy new year 2019! Sudah lama gak nulis nih. Kalau diceritakan akan panjang banget tulisannya. Intinya, di tahun 2018 banyak banget cerita dan pelajarannya bagi saya. Saya ingat saya berbisik dalam hati bahwa saya begitu menginginkan sesuatu. Saya telah mencobanya dan gagal. Namun, alam berkonspirasi. Alhamdulillah satu resolusi saya tercapai di tahun 2018. Pencapaian itu membuat saya yakin bahwa apapun yang terjadi adalah yang terbaik pada saat itu.Ya, hal-hal terbaik selalu terjadi tepat waktu. Yang susah adalah untuk tetap yakin sampai hal terbaik itu terjadi. Oleh karena itu, dalam hidup ini kita perlu iman. "And most importantly, you must always have faith in yourself." -Legally Blonde- Have wonderful years ahead! Cheers :)

TRIZ

Saya percaya setiap sesuatu mempunyai pola. Dalam hal penyelesaian masalah, seorang pria Rusia bernama G.S. Altshuller mempelajari berbagai paten dari seluruh dunia untuk menemukan pola penemuan baru. Ia berpikir bahwa jika kita memahami pola penemuan dari berbagai paten yang hebat dan mempelajarinya, maka semua orang bisa menjadi inventor/penemu. Dari hasil studinya, ia memperkenalkan theory of inventing problem solving yang dinamakan TRIZ (Teorija Resenija Isobretatelskih Zadac) . Saya mendengar teori ini dari seorang Coach yang menjadi rekanan perusahaan dimana saya bekerja. Langkah-langkah penyelesaian masalah dalam TRIZ adalah sebagai berikut: Mendefinisikan masalah yang kita hadapi secara spesifik Menemukan masalah umum dalam TRIZ yang sesuai Menemukan solusi umum untuk pemecahan masalah yang sesuai tersebut Menggunakan solusi umum tersebut untuk menyelesaikan masalah spesifik yang kita hadapi Kebanyakan masalah timbul karena adanya kontradiksi. Dengan menggunaka

Perbedaan

"Kalau kamu dan pasanganmu beda pilihan di Pilkada gimana?" "Gak boleh beda. Harus sama." Langsung block orang yang bertanya. "Gak boleh beda. Istri harus taat pada suami. Kalau nggak, nanti dikasih sanksi, bisa sampai diceraikan." "Hmm, sulit sih. Yang jelas harus logis dan objektif." "Biasa aja. Ya sudah beda." "Ya gak apa-apa dia milih kandidat yang lain. Yang penting dia milih gw. Haha!" Kira-kira kamu pilih jawaban yang mana? Atau kamu punya jawaban sendiri? Pertanyaannya sama, tapi jawabannya bisa sangat jauh berbeda. Saya jadi ingat teori kecoa yang disampaikan oleh CEO Google, Sundar Pichai.  Di sebuah restoran, seekor kecoa tiba-tiba terbang dari suatu tempat dan mendarat di seorang wanita. Dia mulai berteriak ketakutan. Dengan wajah yang panik dan suara gemetar, dia mulai melompat, dengan kedua tangannya berusaha keras untuk menyingkirkan kecoa tersebut. Reaksinya menular, karena semua orang di k