Langsung ke konten utama

45. Sebentar Senang Sebentar Sedih

Bulan Maret sudah berakhir. Itu artinya seperempat tahun ini sudah terlewati. Apa saja yang sudah saya lakukan? Hmm, sepertinya tidak banyak. Saya menghela nafas.  

Saya membaca kembali catatan-catatan saya dan merenung. Saya suka sekali mencatat ulang dan merangkum buku-buku yang saya sukai. Kemudian, saya menghubungkannya dengan pemikiran dan apa yang saya pahami. 

Dari berbagai catatan, saya teringat kembali konsep "Mulur-Mungkret", memanjang-memendek. Konsep ini berkaitan dengan keinginan manusia yang memanjang jika terpenuhi dan memendek jika tidak terpenuhi. Ketika keinginan kita tercapai, kita merasa senang. Senangnya kita tidak selamanya, hanya sebentar. Kemudian kita mempunyai keinginan lainnya yang jauh lebih besar (memanjang). Ketika keinginan kita tidak tercapai, kita merasa sedih. Sedihnya kita juga tidak selamanya, hanya sebentar. Kemudian kita menerima kenyataan dan menggantinya dengan keinginan yang lebih sederhana (memendek). Bagaimana pun keinginan kita tercapai atau tidak, tetap saja rasanya hanya sebentar senang sebentar sedih. 

Hmm, saya sedang sedih akhir-akhir ini. Ketika saya sedih, saya menjadi terlalu banyak mikir. Untung saja, saya mengingat konsep di atas, pikiran saya jadi jernih. Kabar buruknya adalah saya jadi tidak percaya pada akhir setiap cerita dongeng yang berkata, they live happily ever after. Mereka hidup bahagia selamanya.  Selamanya terlalu lama untuk hanya merasa senang atau hanya merasa sedih.  

Yang namanya hidup pasti sebentar senang sebentar sedih. Mau diapakan juga, mau dicari kemana juga,  tidak ada rasa senang selamanya atau sedih selamanya sepanjang kita masih hidup. Ketika kita benar-benar menyadari hal ini, kita pun tidak menuntut banyak dari hidup. Kita memilih untuk menikmati saja apa yang terjadi saat ini, baik itu rasa senang maupun rasa sedih.

Kita boleh punya keinginan apa saja dan melakukan apa saja, yang baik ataupun yang buruk. Ujungnya sama, hanya sebentar senang sebentar sedih. Jadi, tidak ada yang perlu dicari dan dihindari mati-matian. Tidak perlu khawatir dan sedih berlebihan. Toh, tidak ada beban yang terlalu berat untuk dipikul. Rasa kita hanya sebentar senang sebentar sedih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

18. Orang Sulit

Pernah mengeluhkan orang lain? Sampai berkali-kali atau malah sampai benci? Mungkin mereka orang yang sulit. Atau malah kita sendiri orang yang sulit menurut orang lain? Apa sih yang dimaksud orang yang sulit? 

Membayangkan orang yang sulit rasanya melelahkan berurusan dengan orang seperti ini. Males deh kalau sama dia. Begitu kira-kira ungkapan kita ketika mengingat orang yang sulit. Definisi orang yang sulit bagi masing-masing orang bisa berbeda-beda. Orang yang simpel bisa menjadi orang yang sulit bagi orang yang perfeksionis dan sebaliknya. Orang yang saklek bisa menjadi orang yang sulit bagi orang yang fleksibel dan sebaliknya. Ketika perbedaan ini selalu dijadikan alasan untuk berkonflik, itulah saat seseorang menjadi orang yang sulit. Ia selalu berkonflik dengan orang lain, buat ribet atau cari ribut. Kebalikan orang sulit adalah orang yang cair, mudah sekali berharmoni dengan orang lain.
Tidak jarang saya mendengar keluhan teman-teman saya tentang kekasih mereka. 
“Cowok gw p…

53. Jalani Saja Takdirmu

Seorang awam bertanya kepada seorang sufi, “Apa itu nasib?” Ia menjawab, “Asumsi-asumsi”. Seorang awam minta diramal oleh seorang bikhsu besar akan seperti apa hidupnya, sang bikshu menjawab, “Masa depanmu sungguh.. tidak pasti!” Saya percaya pada rukun iman yang ke-enam, takdir. Namun, siapa sih yang benar-benar bisa mengetahui masa depannya sendiri? Melakukan yang terbaik setiap saat dan menikmati prosesnya adalah apa yang sepatutnya dilakukan, bukan mereka-reka masa depan dan terbuai dengannya. 
Saya pernah bertemu langsung dengan orang-orang yang bisa menerawang. Mereka pun tidak bisa mendahului takdir seseorang. Apapun yang mereka ketahui mengenai orang lain tidaklah untuk diceritakan ke orang tersebut sehingga bisa mempercepat atau menghindari takdirnya. Jadi, jangan mudah percaya dengan ramalan-ramalan yang mengatakan ini itu tentang masa depanmu. Jalani saja takdirmu. Hal terpenting untuk diingat adalah apapun yang terjadi saat ini pasti yang terbaik menurutNya. Kalau bukan, …

Saling Memanfaatkan

Kamu pernah merasa sedang di atas? Tempat yang tinggi? Baik secara fisik maupun rasa. Semua orang pasti pernah ya. Saya sendiri merasa betapa banyak orang yang bersama saya ketika di atas. Seakan-akan mereka semua dekat dengan saya dan begitu menyayangi saya. Saya bersyukur. Sayangnya saya juga pernah di bawah. Kata orang kalau di bawah banyak orang pergi meninggalkan, ya biarkan saja. Kamu tahu tidak, hakikat dari semua pertemanan, persahabatan, atau hubungan? Tidak lain dan tidak bukan, hakikatnya adalah rasa saling memanfaatkan. 
Apa hubungan manusia yang paling tulus menurutmu? Menurut saya, hubungan orang tua dengan anaknya. Hakikat hubungan itu tetap saja rasa saling memanfaatkan. Bagaimana bisa?
Contoh kecil saja, ketika orang tua mengatakan, "Ibu dan Ayah tidak mengharapkan apa-apa darimu, Nak." Coba deh kamu pikirkan, paling tidak setiap orang tua mengharapkan anaknya menjadi orang yang baik, bukan? Lalu jika orang tua berkata, "Ibu dan Ayah mengharapkanmu men…