Langsung ke konten utama

Postingan

Be A Remedy

Setiap orang punya masalah. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang tidak punya masalah. Seorang bayi pun sudah punya masalah ketika ia baru saja dilahirkan. Ia harus bernapas sendiri. Itulah mengapa setiap bayi menangis saat dilahirkan. Oksigen memasuki paru-parunya untuk pertama kali.  Banyak masalah dibagikan, diceritakan, dan diluapkan.  Saya mendengar banyak orang menceritakan masalah bahkan diri saya sendiri. Masalah kita beragam; pekerjaan, pasangan, keluarga, teman, keuangan bahkan sampai masalah berat badan pun bisa saja kita ceritakan. Seringnya kita begitu fokus pada masalah, bukan ide, solusi, cita-cita atau hal positif lainnya. Ajaran Buddha mengatakan bahwa hidup adalah derita. Pernyataan ini begitu jujur dan apa adanya. Tidak perlu heran ketika hidup kita penuh masalah. Begitulah sifat kehidupan. Masalah akan selalu ada. Semakin jauh kita berjalan masalah kita pun semakin berat. Anggap saja ujian kenaikan tingkat. Kita harus ingat bahwa setiap ...

Guru dan Pelajaran

Selamat datang di Universitas Kehidupan.  Gurunya adalah semua orang.  Pelajarannya adalah segala sesuatu.  Bagi saya kehidupan adalah perjalanan. Merugilah kita jika kita berjalan semakin jauh tapi tidak semakin baik. Seperti film yang bagus dimana akhirnya adalah klimaks, seperti itu juga seharusnya akhir perjalanan hidup. Pertanyaannya adalah baik seperti apa? Suatu ketika saya mengeluh tentang seseorang. Saya terus mengeluh tentangnya lagi dan lagi. Adik saya sampai bosan mendengarnya. Entah bagaimana, akhirnya saya menyebut orang itu guru sabar saya. Dia ada untuk membantu saya belajar sabar. Saya tidak lagi mengeluh tentangnya.  Setiap perjalanan membutuhkan bekal. Dalam hidup, bekalnya adalah ilmu/hikmah. Hikmah ini bertebaran dimana-mana. Ia ada dalam segala sesuatu. Namun, hanya orang-orang yang mau belajar dan mencarinya yang bisa mendapatkannya. Orang baik dan jahat keduanya bisa menjadi guru. Orang baik mengajarkan kita bagai...

Doa Dengan Yakin

Kemarin siang tiba-tiba teman saya memeluk saya sambil menangis. Saya kaget. Lama ia hanya menangis dan tidak berkata apa-apa. Saya hanya balas memeluknya sambil bertanya-tanya.  Di sela tangisnya, ia berkata bahwa mamanya sudah menyetujui hubungannya. Seketika itu pun saya ikut menangis dan mengucap syukur. Sambil menangis ia berkata, "Doa itu gak pernah sia-sia." Lebih dari 10 tahun sudah mereka bersama. Ia dan kekasihnya beda agama. Sudah banyak yang menyarankannya kawin lari saja. Ia tetap bersikeras menunggu restu sang mama. Ia yakin suatu saat pasti hati sang mama luluh. Tahun demi tahun berganti. Seperti batu yang akhirnya tergerus oleh rintikan air hujan, hati sang mama yang keras melunak dengan kekuatan doa mereka. Saya menceritakan kisah ini ke beberapa teman saya. Mereka lebih tertarik mengetahui siapa yang masuk agama apa. Saya tersenyum, seakan mendengar sebuah lagu lama dalam kepala saya. Aku untuk kamu, kamu untuk aku Namun semua apa mungkin...

Di Balik Perintah Kurban

Entah bagaimana aku memahami kegelisahanku Apakah akalku yang tak mampu atau akalku yang buntu Bagaimana bisa, Tuhan Sang Penggenggam Kuasa semesta  masih menuntut kesungguhan bakti Ibrahim, sang pesuruh Tuhan yang setia Bagaimana mungkin aku bisa memahami Tuhan Penggenggam Kuasa itu meminta Ibrahim untuk menyembelih putra terkasihnya?! Dan tak mungkin Ibrahim membantah Aku tak peduli, Ismail atau Ishak yang tergeletak pasrah menyongsong kilatan pedang yang menggidikkan itu, bahkan saat Ibrahim terpejam menggorokkan pedang tajamnya pada leher jenjang yang terlentang dalam pasrah, lalu darah mengucur dan menyembur.. Meskipun itu hanya darah seekor domba, batinku tetap tak bisa menerima begitu saja Ini jelas penindasan! Ini kesewenang-wenangan! Lalu kukaji ragam cerita dari kitab-kitab suci Lalu kutemui ragam ajaran kebijaksanaan dari para bijak bestari Lalu kudapatkan, kurasakan, dan kuendapkan Bahkan pada segala peristiwa di mayapada kutangkap dengan mata kepal...

Dalam Doaku

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia,...

Alternatif Homeschooling

Hari ini hari Senin dan hari pertama anak-anak masuk sekolah. Orang tua yang mengantar melihat anak-anak mereka berbaris untuk melaksanakan upacara. Puluhan motor dan mobil parkir di depan pagar dan bangunan sekolah. Lalu lintas menjadi sangat padat hari ini. Di tengah kemacetan, saya teringat sebuah surat kepala sekolah yang sempat viral beberapa waktu lalu. "D i tengah-tengah para pelajar yang menjalani ujian itu, ada calon seniman yang tidak perlu mengerti Matematika. Ada calon pengusaha yang tidak butuh pelajaran Sejarah atau Sastra. Ada calon musisi yang nilai Kimia-nya tidak berarti. Ada calon olahragawan yang lebih mementingkan fisik daripada Fisika. Ada calon fotografer yang lebih berkarakter dengan sudut pandang art berbeda yang tentunya ilmunya bukan dari sekolah ini." Diakui atau tidak, sistem pendidikan kita memang belum efektif merumuskan ukuran untuk mengidentifikasi bakat seorang anak dan memenuhi kebutuhan pembelajarannya. Banyak lulusan yang bingu...

Saling Memanfaatkan

Kamu pernah merasa sedang di atas? Tempat yang tinggi? Baik secara fisik maupun rasa. Semua orang pasti pernah ya. Saya sendiri merasa betapa banyak orang yang bersama saya ketika di atas. Seakan-akan mereka semua dekat dengan saya dan begitu menyayangi saya. Saya bersyukur. Sayangnya saya juga pernah di bawah. Kata orang kalau di bawah banyak orang pergi meninggalkan, ya biarkan saja. Kamu tahu tidak, hakikat dari semua pertemanan, persahabatan, atau hubungan? Tidak lain dan tidak bukan, hakikatnya adalah rasa saling memanfaatkan.  Apa hubungan manusia yang paling tulus menurutmu? Menurut saya, hubungan orang tua dengan anaknya. Hakikat hubungan itu tetap saja rasa saling memanfaatkan. Bagaimana bisa? Contoh kecil saja, ketika orang tua mengatakan, "Ibu dan Ayah tidak mengharapkan apa-apa darimu, Nak." Coba deh kamu pikirkan, paling tidak setiap orang tua mengharapkan anaknya menjadi orang yang baik, bukan? Lalu jika orang tua berkata, "Ibu dan Ayah mengharapk...